Rabu, 07 Agustus 2013

Konsep Berubah

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Perubahan bisa terjadi setiap saat, dan merupakan proses yang dinamik serta tidak dapat dielakkan. Berubah berarti beranjak dari keadaan yang semula. Tanpa berubah tidak ada pertumbuhan dan tidak ada dorongan. Namun dengan berubah terjadi ketakutan, kebingungan dan kegagalan dan kegembiraan. Setiap orang dapat memberikan perubahan pada orang lain. Merubah orang lain bisa bersifat implisit dan eksplisit atau bersifat tertutup dan terbuka. Kenyataan ini penting khususnya dalam kepemimpinan dan manajemen. Pemimpin secara konstan mencoba menggerakkkan sistem dari satu titik ke titik lainnya untuk memecahkan masalah. Maka secara konstan pemimpin mengembangkan strategi untuk merubah orang lain dan memecahkan masalah.


1.2 Rumusan Masalah

1.  Konsep berubah
2. Sifat dan Proses Perubahan
3. Teori-Teori Perubahan
4. Strategi dalam Perubahan
5. Tipe Perubahan
6. Model dalam Perubahan
7. Penerapan Proses Berubah
8. Hambatan dalam Perubahan
9. Perubahan dalam Keperawatan


1.3 Tujuan

1.      Mendefinisikan konsep berubah
2.      Mendefinisikan sifat dan proses perubahan
3.      Mendefinisikan teori-teori perubahan
4.      Mendefinisikan strategi dalam perubahan
5.      Mendefinisikan tipe perubahan
6.      Mendefinisikan model dalam perubahan
7.      Mendefinisikan penerapan proses berubah
8.      Mendefinisikan hambatan dalam perubahan
9.      Mendefinisikan perubahan dalam keperawatan


           




BAB II

2.1   KONSEP BERUBAH
PENGERTIAN
            Suatu proses dimana terjadinya peralihan ata perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Perubahan dapat mencakup keseimbangan personal, sosial maupun organisasi untuk dapat menjadikan perbaikan atau penyempurnaan serta dapat menerapkan ide atau konsep terbaru dalam mencapai tujuan tertentu.
            Menurut para ahli :
1)   Berubah merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya (Atkinson,1987)
2)   Merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu atau institusi (Brooten,1978)
3)   Perubahan adalah proses membuat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya
( Sullivan dan Decker,2001)


2.2  SIFAT DAN PROSES PERUBAHAN
            Dalam proses perubahan akan menghasilkan penerapan dari konsep atau ide terbaru. Menurut Lancaster tahun 1982, proses perubahan memiliki 3 sifat diantaranya :
a.       Perubahan bersifat perkembangan
Sifat perubahan ini mengikuti dari proses perkembangan yang ada baik pada individu, kelompok atau masyarakat secara umum. Proses perkembangan ini dimulai dari keadaan atau yang paling dasar menuju keadaan yang optimal atau matang, sebagaimana dalam perkembangan manusia sebagai makhluk individu yang memiliki sifat fisik yang selalu berubah dalam tingkat perkembangannya

b.      Perubahan bersifat direncanakan
Perubahan yang diarahkan untuk lebih maju atau mencapai tingakt perkembangan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya, sebagaimana perubahan dalam sistem pendidikan keperawatan di Indonesia yang selalu mengadakan perubahan sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran atau pelayanan kesehatan pada umumnya. Perubahan perencanaan sebagaimana proses keperawatan memelurkan suatu pemikiran yang matang tentang keterlibatan individu, kelompok atau masyarakat. Penyelesaian masalah, pengambilan keputusan, pemikiran kritis, pengkajian dan efektivitas penggunaan keterampilan interpersonal, termasuk kemampuan komunikasi, kolaborasi, negoisasi dan persuasi adalah kunci dalam perencanaan perubahan.

c.       Perubahan bersifat tidak direncanakan (spontan)
Sifat perubahan ini dapat terjadi karena keadaan yang dapat memberikan respons tersendiri terhadap kejadian-kejadian yang bersifat alamiah yang diluar kehendak manusi, yang tidak dapat diramalkan atau di prediksi sehingga sulit untuk di antisipasi seperti perubahan keadaan alam, tanah longsor, banjir dan lain-lain. Semuanya akan menimbulkan terjadinya perubahan baik itu dalam diri sendiri, kelompok atau masyarakat, bahkan pada sistem yang mengaturnya.


2.3  TEORI-TEORI PERUBAHAN
A.     TEORI KURT LEWIN (1951)
Menurut pandangan Kurt Lewin (1951), seseorang yang akan mengadakan suatu perubahan harus memiliki konsep tentang perubahan yang tercantum dalam tahap proses perubahan agar proses perubahan tersebut menjadi terarah dan mencapai tujuan yang ada. Tahapan tersebut antara lain :
·      Tahap percairan (unfreezing)
Pada tahap awal ini yang dapat dilakukan bagi seseorang yang mau mengadakan proses perubahan adalah harus memiliki motivasi yang kuat untuk berubah dari keadaan semula dengan merubah terhadap keseimbangan yang ada. Di samping itu juga perlu menyiapkan diri dan siap untuk berubah atau melakukan adanya perubahan.
·      Tahap bergerak (moving)
Pada tahap ini sudah dimulai adanya suatu pergerakan kearah sesuatu  yang baru atau perkembangan terbaru. Proses perubahan tahap ini dapat terjadi apabila seseorang telah memiliki informasi yang cukup serta sikap dan kemampuan untuk berubah, juga memiliki kemampuan dalam memahami masalah serta meengetahui langkah-langkah dalam menyesuaikan masalah.
·      Tahap pembekuan (refreezing)
Tahap ini merupakan tahap perkembangan dimana seseorang yang mengadakan perubahan telah mencapai tingkat atau tahapan yang baru dengan keseimbangan yang baru. Proses pencapaian yang baru perlu pembinaan tersebut dalam upaya mempertahankan perubahan yang telah dicapai.
B.     TEORI ROGERS E (1962)
Menurut Rogers E untuk mengadakan suatu perubahan perlu ada beberapa langkah yang ditempuh sehingga harapan atau tujuan akhir dari perubahan dapat tercapai. Langkah-langkah tersebut antara lain :
1.      Tahap awareness
Tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan diperlukan adanya kesadaran untuk berubah apabila tidak ada kesadaran untuk berubah, maka tidak mungkin tercipta suatu perubahan.
2.      Tahap interest
Dalam mengadakan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari perubahan yang dikenalkan. Timbulnya minat akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah.
3.      Tahap evaluasi
Terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjaddi hambatan yang akan ditemukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan.
4.       Tahap trial
Tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan.
5.      Tahap adoption
Tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.

C.     TEORI LIPPIT (1973)
Lippit memandang teori perubahan dapat dilaksanakan dari tinjauan sebagai seorang pembaharuan dengan memperkenalkan terjadinya perubahan, sehingga terdapat beberapa langkah yang ditempuh untuk dapat mengadakan pembaharuan. Langkah yang dimaksud adalah :
1.    Menentukan diagnosis terlebih dahulu masalah yang ada.
2.    Mengadakan pengkajian terhadap motivasi perubahan serta kemampuan dalam perubahan.
3.    Melakukan pengkajian perubahan terhdap hasil atau manfaat dari suatu perubahan.
4.    Menetapkan tujuan perubahan yang dilaksanakan berdasarkan langkah yang ditempuhnya.
5.    Menetapkan peran dari perubahan sebagai pendidik, peneliti atau pemimpin dalam pembaharuan.
6.    Mempertahankan hasil dari perubahan yang dicapainya.
7.    Melakukan penghentian bantuan yang diberikan secara bertahap dengan harapan peran dan tanggung jawab dapat tercapai secara bertahap.


2.4  STRATEGI  DALAM PERUBAHAN
            Dalam perubahan dibutuhkan cara yang tepat agar tujuan dalam perubahan dapat tercapai secara tepat, efektif dan efisien. Cara tersebut membutuhkan strategi khusus dalam perubahan di antaranya :
a Strategi Rasional Empirik
Strategi ini didasarkan karena manusia sebagai komponen dalam perubahan memiliki sifat rasional untuk kepentingan diri dalam berperilaku. Untuk mengadakan suatu perubahan strategi rasional dan empirik yang didasarkan dari hasil penemuan atau riset untuk diaplikasikan dalam perubahan manusia yang memiliki sifat rasional akan menggunakan rasionalnya dalam menerima sebuah perubahan.
Langkah dalam perubahan atau kegiatan yang diinginkan dalam strategi rasional empirik ini dapat melalui penelitian atau adanya desiminasi melalui pendidikan secara umum. Strategi  ini juga dilakukan pada penempatan sasaran yang sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki sehingga semua perubahan akan menjadi efektif dan efisien, selain itu juga menggunakan sistem analisis dalam pemecahan masalah yang ada.

b.Strategi Redukatif Normatif
Strategi ini dilaksanakan berdasarkan standar norma yang ada di masyarakat. Perubahan yang akan dilaksanakan melihat nilai nilai normatif yang ada di masyarakat sehingga tidak akan menimbulkan permasalahan baru di masyarakat. Standar norma yang ada di masyarakat ini di dukung dengan sikap dan sistem nilai individu yang ada di masyarakat. Pendekatan ini dilaksanakan dengan mengadakan intervensi secara langsung dalam penerapan teori-teori yang ada. Strategi ini dilaksanakan dengan cara melibatkan individu, kelompok atau masyarakat dan proses penyusunan rancangan untuk perubahan. Pelaku dalam perubahan harus memiliki kemampuan dalam berkolaborasi dengan masyarakat. Kemampuan ilmu perilaku harus dimiliki dalam pembaharu.

c.Strategi  Paksaan- Kekuatan
Dikatakan strategi paksaan-kekuatan karena adanya penggunaan kekuatan atau kekuasaan yang dilaksanakan secara paksa dengan menggunakan kekuatan moral dan kekuatan politik. Strategi ini dapat dilaksanakan dalam perubahan sistem kenegaraan, penerapan sistem pendidikan dan lain-lain.


2.5  TIPE PERUBAHAN
            Perubahan merupakan sesuatu yang mungkin sulit diterima bagi seseorang, kelompok atau masyarakat yang belum memahami makna dari perubahan. Apabila dipandang dari tipe perubahan, menurut Bennis (1965), perubahan itu sendiri memiliki 7 tipe diantaranya :
1)      Tipe indoktrinasi « suatu perubahan yang dilakukan oleh suatu kelompok atau masyarakat yang menginginkan pencapaian tujuan yang diharapkan dengan cara memberi doktrin atau menggunakan kekuatan sepihak untuk dapat berubah.
2)      Tie paksaan atau kekerasan « tipe perubahan dengan melakukan pemaksaan kekerasana pada anggota atau seseorang dengan harapan tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
3)      Tipe teknokratik « tipe perubahan dengan melibatkan kekuatan lain dalam mencapai tujuan yang diharapkan terdapat satu pihak merumuskan tujuan dan pihak lain untuk membantu teercapainya tujuan tersebut.
4)      Tipe interaksional « perubahan dengan menggunakan kekuatan kelompok yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
5)      Tipe sosialisasi « suatu perubahan dalam mencapai tujuan dengan menggunakan kerjasama dengan kelompok lain tetapi masih menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.
6)      Tipe emultif « suatu perubahan dengan menggunakan kekuatan unilateral dengan tidak merumuskan tujuan teerlebih dahulu secara sungguh-sungguh, perubahan ini dapat dilakukan pada sistem diorganisasi yang bawahannya berusaha menyamai pimpinan atau atasannya.
7)      Tipe alamiah « perubahan yang terjadi akibat sesuatu yang tidak disengaja tetapi dalam merumuskan dilakukan secara tidak sungguh-sungguh, seperti kecelakaan, maka seseorang ingin mengadakan perubahan untuk lebih berhati-hati dalam berkendara dan lain sebagainya.


2.6  MODEL DALAM PERUBAHAN
            Dalam peruabahan kita mengenal beberapa model diantaranya :
¥  Model Penelitian dan Pengembangan (Research and Development Model)
Ä Didasarkan atas penelitian dan perencanaan dalam pengembangan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.  Dalam menggunakan model ini dapat dilakukan dengan cara :
Ó Melakukan identifikasi atas perubahan yang akan dilakukan
Ó Menjabarkan atau mengembangkan komponen
Ó Menyiapkan perubahan
Ó Melakukan desiminasi kepada masyarakat tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam perubahan.
¥  Model Interaksi Sosial (Social Interaction Model)
Ä Model perubahan dengan interaksi sosial ini dilakukan berdasarkan atas saling kerjasama dalam sistem sosial dengan memfokuskan pada persepsi dan respon dari perubahan yang akan dilakukan. Model ini menggunakan langkah-langkah (Rogers E) diantaranya :
Ó Menyadari akan perubahan
Ó Adanya minat dalam perubahan
Ó Melakukan evaluasi tentang hal-hal yang akan dilakukan perubahan
Ó Melakukan uji coba sesuatu hal yang akan dilakukan perubahan serta menerimanya
¥  Model Penyelesaian Masalah (Problem Solving Model)
Model ini menekankan pada penyelesaian masalah dengan menggunakan langkah-langkah diantaranya :
Ó Mengidentifikasi kebutuhan  yang menjadi masalah
Ó Mendiagnosis masalah
Ó Menemukan cara penyelesaian masalah yang akan digunakan
Ó Melakukan uji coba
Ó Melakukan evaluasi dari hasil uji coba untuk digunakan dalam perubahan


2.7  PENERAPAN PROSES BERUBAH
         Pendidikan
Setiap zaman akan mengalami perubahan dalam kurikulum pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
         Pelayanan keperawatan
Adanya keetidakprofesionalnya perawat dalam merawat pasien sehingga mengakibatkan jumlah pasien yang menurun. Setelah itu pihak rumah sakit akan meningkatkan mutu pelayanan yang lebih berkualitas.
         Individu
Mahasiswa yang dulunya malas belajar dan ketika ujian mendapat nilai D, maka dia bisa termotivasi untuk belajar lebih giat agar mendapat nilai B atau bahkan A, maka terjadi perubahan dalam diri mahasiswa tersebut.
         Masyarakat
Masyarakat yang dulunya tidak sadar akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Berubah persepsi akan pentingnya hal itu setelah meraka mengalami banjir.


2.8  HAMABATAN DALAM PERUBAHAN
            Perubahan tidak selalu mudah untuk dilaksanakan akan tetapi banyak hambatan yang akan diterimanya baik hambatan dari luar maupun dari dalam diantara hal yang menjadi hambatan dalam perubahan adalah sebagai berikut :
ª Ancaman kepentingan pribadi
Hambatan dalam perubahan karena adanya kekhawatiran adanya perubahan segala kepentingan dan tujuan diri. Contoh : dalam pelaksaan standarisasi perawat professional dimana yang diakui sebagai profesi perawat adalah minimal pendidikan DIII keperawatan, sehingga bagi lulusan SPK yang dahulu dan tidak ingin melanjutkan pendidikan akan terancam bagi kepentingan dirinya sehingga hal tersebut dapat menjadikan hambatan dalam perubahan.
ª Persepsi yang kurang tepat
Persepsi yang kurang tepat atau informasi yang belum jelas ini dapat menjadi kendala dalam proses perubahan. Berbagai informasi yang akan dilakukan dalam sistem perubahan jika tidak dikomunikasikan dengan jelas, maka tempat yang akan dijadikan perubahan akan sulit menerimanya sehingga timbul kekhawatiran dari perubahan tersebut.
ª Reaksi psikologis
Faktor yang menjadi hambatan dalam perubahan karena setiap orang memiliki reaksi psikologis yang berbeda dalam merespons perbedaan sistem adaptasi pada setiap orang juga dapat menimbulkan reaksi psikologis yang berbeda sehingga bisa menjadi hambatan dalam perubahan. Contoh : apabila akan dilakukan perubahan dalam sistem praktek keperawatan mandiri bagi perawat. Jika perawat belum bisa menerima secara psikologis akan timbul kesulitan karena ada perasaan takut sebagai dampak dari perubahan.
ª Kebiasaan
Pada dasarnya seseorang akan lebih senang pada sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya atau bahkan di laksanakan sebelumnya dibandingkan dengan sesuatu yang baru dikenalnya, karena keyakinan yang dimilikinya sangat kuat.
ª Ketergantungan
Ketergantungan seseorang menyebabkan tidak dapat hidup secara mandiri dalam mencapai tujuan tertentu.
ª Norma
Segala aturan yang didukung oleh anggota masyarakat dan tidak mudah dirubah. Apabila akan mengadakan proses perubahan namun perubahan tersebut bertentangan dengan norma maka perubahan tersebut akan mengalami hambatan. Sebaliknya jika norma tersebut sesuai dengan prinsip perubahan, maka akan sangat mudah dalam perubahan.


2.8  PERUBAHAN DALAM KEPERAWATAN
Dalam perkembangannya keperawatan juga mengalami proses perubahan seiring dengan kemajuan dan teknologi. Alasan terjadinya perubahan dalam keperawatan antara lain:
  Keperawatan Sebagai Profesi Keperawatan sebagai profesi yang diakui oleh masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan tentu akan dituntut untuk selalu berubahkearah kemandirian dalam profesi keperawatan, sehingga sebagai profesi akan mengalami perubahan kearah professional dengan menunjukan agar profesi keperawatan diakui oleh profesi bidang kesehatan yang sejajar dalam pelayanan kesehatan.
  Keperawatan Sebagai Bentuk Pelayanan Asuhan Keperawatan Keperawatan sebagai bentuk pelayanan asuhan keperawatan professional yang diberikan kepada masyarakat akan terus memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat dengan mengadakan perubahan dalam penerapan model asuhan keperawatan yang tepat, sesuai dengan lingkup praktek keperawatan.
  Keperawatan Sebagai Ilmu Pengetahuan Keperawatan sebagai ilmu pengetahuan terus selalu berubah dan berkembang sejalan dengan tuntutan zaman dan perubahan teknologi, karena itu dituntut selalu mengadakan perubahan melalui penelitian keperawatan sehingga ilmu keperawatan diakui secara bersama oleh disiplin ilmu lain yang memiliki landasan yang kokoh dalam keilmuan.
  Keperawatan Sebagai Komunikasi Keperawatan sebagai komunikasi dalam masyarakat ilmiah harus selalu menunjukkan jiwa professional dalam tugas dan  tanggung jawabnya dan selalu mengadakan perubahan sehingga citra sebagai profesi tetap bertahan dan berkembang.





BAB III
KESIMPULAN

1.    Perubahan merupakan suatu proses  dimana  terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada.  Perubahan dapat  mencakup Keseimbangan Personal, sosial maupun organisas untuk dapat menjadikan perbaikan atau penyempurnaan serta dapat menerapkan ide atau  konsep terbaru dalam mencapai tujuan tertentu (Lascaster1982).

2.    Dalam konsep berubah, tidak selalu mudah untuk dilaksanakan akan tetapi ada beberapa hambatan dalam melakukannya baik berasal dari internal maupun eksternal.

3.    Strategi dalam konsep berubah ada 3 yaitu : Strategi Rasional Empirik, Strategi Reduktif Normatif, dan Strategi Paksaan-Kekuatan.







DAFTAR PUSTAKA

Nursalam (2002) Edisi 1. Manajemen Keperawatan. Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba. 
Nursalam (2009) Edisi 2. Manajemen Keperawatan. Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba.
A.  Aziz Alimul  Hidayat (2008) Edisi 2. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba.