BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan bisa
terjadi setiap saat, dan merupakan proses yang dinamik serta tidak dapat
dielakkan. Berubah berarti beranjak dari keadaan yang semula. Tanpa berubah
tidak ada pertumbuhan dan tidak ada dorongan. Namun dengan berubah terjadi
ketakutan, kebingungan dan kegagalan dan kegembiraan. Setiap orang dapat
memberikan perubahan pada orang lain. Merubah orang lain bisa bersifat implisit
dan eksplisit atau bersifat tertutup dan terbuka. Kenyataan ini penting khususnya
dalam kepemimpinan dan manajemen. Pemimpin secara konstan mencoba menggerakkkan
sistem dari satu titik ke titik lainnya untuk memecahkan masalah. Maka secara
konstan pemimpin mengembangkan strategi untuk merubah orang lain dan memecahkan
masalah.
1.2 Rumusan Masalah
1. Konsep berubah
2. Sifat dan Proses Perubahan
3. Teori-Teori Perubahan
4. Strategi dalam Perubahan
5. Tipe Perubahan
6. Model dalam Perubahan
7. Penerapan Proses Berubah
8. Hambatan dalam Perubahan
9. Perubahan dalam Keperawatan
1.3 Tujuan
1.
Mendefinisikan konsep
berubah
2.
Mendefinisikan sifat dan
proses perubahan
3.
Mendefinisikan teori-teori
perubahan
4.
Mendefinisikan strategi
dalam perubahan
5.
Mendefinisikan tipe
perubahan
6.
Mendefinisikan model dalam
perubahan
7.
Mendefinisikan penerapan
proses berubah
8.
Mendefinisikan hambatan
dalam perubahan
9.
Mendefinisikan perubahan
dalam keperawatan
BAB II
2.1 KONSEP BERUBAH
PENGERTIAN
Suatu
proses dimana terjadinya peralihan ata perpindahan dari status tetap (statis)
menjadi status yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang ada. Perubahan dapat mencakup keseimbangan personal, sosial
maupun organisasi untuk dapat menjadikan perbaikan atau penyempurnaan serta
dapat menerapkan ide atau konsep terbaru dalam mencapai tujuan tertentu.
Menurut
para ahli :
1)
Berubah merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau
seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya (Atkinson,1987)
2) Merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola
perilaku individu atau institusi (Brooten,1978)
3)
Perubahan adalah proses membuat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya
( Sullivan dan Decker,2001)
2.2 SIFAT DAN
PROSES PERUBAHAN
Dalam proses perubahan akan
menghasilkan penerapan dari konsep atau ide terbaru. Menurut Lancaster tahun
1982, proses perubahan memiliki 3 sifat diantaranya :
a.
Perubahan bersifat perkembangan
Sifat
perubahan ini mengikuti dari proses perkembangan yang ada baik pada individu,
kelompok atau masyarakat secara umum. Proses perkembangan ini dimulai dari
keadaan atau yang paling dasar menuju keadaan yang optimal atau matang,
sebagaimana dalam perkembangan manusia sebagai makhluk individu yang memiliki
sifat fisik yang selalu berubah dalam tingkat perkembangannya
b.
Perubahan bersifat direncanakan
Perubahan
yang diarahkan untuk lebih maju atau mencapai tingakt perkembangan yang lebih
baik dari keadaan sebelumnya, sebagaimana perubahan dalam sistem pendidikan
keperawatan di Indonesia yang selalu mengadakan perubahan sejalan dengan
perkembangan ilmu kedokteran atau pelayanan kesehatan pada umumnya. Perubahan
perencanaan sebagaimana proses keperawatan memelurkan suatu pemikiran yang
matang tentang keterlibatan individu, kelompok atau masyarakat. Penyelesaian masalah,
pengambilan keputusan, pemikiran kritis, pengkajian dan efektivitas penggunaan
keterampilan interpersonal, termasuk kemampuan komunikasi, kolaborasi,
negoisasi dan persuasi adalah kunci dalam perencanaan perubahan.
c.
Perubahan bersifat tidak direncanakan
(spontan)
Sifat
perubahan ini dapat terjadi karena keadaan yang dapat memberikan respons
tersendiri terhadap kejadian-kejadian yang bersifat alamiah yang diluar
kehendak manusi, yang tidak dapat diramalkan atau di prediksi sehingga sulit
untuk di antisipasi seperti perubahan keadaan alam, tanah longsor, banjir dan
lain-lain. Semuanya akan menimbulkan terjadinya perubahan baik itu dalam diri
sendiri, kelompok atau masyarakat, bahkan pada sistem yang mengaturnya.
2.3 TEORI-TEORI
PERUBAHAN
A.
TEORI KURT LEWIN (1951)
Menurut pandangan Kurt Lewin
(1951), seseorang yang akan mengadakan suatu perubahan harus memiliki konsep
tentang perubahan yang tercantum dalam tahap proses perubahan agar proses
perubahan tersebut menjadi terarah dan mencapai tujuan yang ada. Tahapan
tersebut antara lain :
·
Tahap percairan (unfreezing)
Pada
tahap awal ini yang dapat dilakukan bagi seseorang yang mau mengadakan proses
perubahan adalah harus memiliki motivasi yang kuat untuk berubah dari keadaan
semula dengan merubah terhadap keseimbangan yang ada. Di samping itu juga perlu
menyiapkan diri dan siap untuk berubah atau melakukan adanya perubahan.
·
Tahap bergerak (moving)
Pada
tahap ini sudah dimulai adanya suatu pergerakan kearah sesuatu yang baru atau perkembangan terbaru. Proses
perubahan tahap ini dapat terjadi apabila seseorang telah memiliki informasi
yang cukup serta sikap dan kemampuan untuk berubah, juga memiliki kemampuan
dalam memahami masalah serta meengetahui langkah-langkah dalam menyesuaikan
masalah.
·
Tahap pembekuan (refreezing)
Tahap
ini merupakan tahap perkembangan dimana seseorang yang mengadakan perubahan
telah mencapai tingkat atau tahapan yang baru dengan keseimbangan yang baru.
Proses pencapaian yang baru perlu pembinaan tersebut dalam upaya mempertahankan
perubahan yang telah dicapai.
B.
TEORI ROGERS E (1962)
Menurut
Rogers E untuk mengadakan suatu perubahan perlu ada beberapa langkah yang
ditempuh sehingga harapan atau tujuan akhir dari perubahan dapat tercapai.
Langkah-langkah tersebut antara lain :
1.
Tahap awareness
Tahap
awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan diperlukan adanya
kesadaran untuk berubah apabila tidak ada kesadaran untuk berubah, maka tidak
mungkin tercipta suatu perubahan.
2.
Tahap interest
Dalam
mengadakan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu
memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari perubahan yang dikenalkan.
Timbulnya minat akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah.
3.
Tahap evaluasi
Terjadi
penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjaddi hambatan yang akan
ditemukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan
langkah dalam melakukan perubahan.
4.
Tahap trial
Tahap
uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu
yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada,
dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan.
5.
Tahap adoption
Tahap
terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru
setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat sesuatu yang baru
sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.
C.
TEORI LIPPIT (1973)
Lippit
memandang teori perubahan dapat dilaksanakan dari tinjauan sebagai seorang
pembaharuan dengan memperkenalkan terjadinya perubahan, sehingga terdapat
beberapa langkah yang ditempuh untuk dapat mengadakan pembaharuan. Langkah yang
dimaksud adalah :
1.
Menentukan diagnosis terlebih dahulu masalah
yang ada.
2.
Mengadakan pengkajian terhadap motivasi
perubahan serta kemampuan dalam perubahan.
3.
Melakukan pengkajian perubahan terhdap hasil
atau manfaat dari suatu perubahan.
4.
Menetapkan tujuan perubahan yang dilaksanakan
berdasarkan langkah yang ditempuhnya.
5.
Menetapkan peran dari perubahan sebagai
pendidik, peneliti atau pemimpin dalam pembaharuan.
6.
Mempertahankan hasil dari perubahan yang
dicapainya.
7.
Melakukan penghentian bantuan yang diberikan
secara bertahap dengan harapan peran dan tanggung jawab dapat tercapai secara
bertahap.
2.4 STRATEGI
DALAM PERUBAHAN
Dalam perubahan dibutuhkan cara yang tepat agar tujuan
dalam perubahan dapat tercapai secara tepat, efektif dan efisien. Cara tersebut
membutuhkan strategi khusus dalam perubahan di antaranya :
a Strategi Rasional Empirik
Strategi ini didasarkan
karena manusia sebagai komponen dalam perubahan memiliki sifat rasional untuk kepentingan
diri dalam berperilaku. Untuk mengadakan suatu perubahan strategi rasional dan
empirik yang didasarkan dari hasil penemuan atau riset untuk diaplikasikan
dalam perubahan manusia yang memiliki sifat rasional akan menggunakan
rasionalnya dalam menerima sebuah perubahan.
Langkah dalam perubahan
atau kegiatan yang diinginkan dalam strategi rasional empirik ini dapat melalui
penelitian atau adanya desiminasi melalui pendidikan secara umum. Strategi
ini juga dilakukan pada penempatan sasaran yang sesuai dengan kemampuan
dan keahlian yang dimiliki sehingga semua perubahan akan menjadi efektif dan
efisien, selain itu juga menggunakan sistem analisis dalam pemecahan masalah
yang ada.
b.Strategi Redukatif Normatif
Strategi ini dilaksanakan
berdasarkan standar norma yang ada di masyarakat. Perubahan yang akan
dilaksanakan melihat nilai nilai normatif yang ada di masyarakat sehingga tidak
akan menimbulkan permasalahan baru di masyarakat. Standar norma yang ada di
masyarakat ini di dukung dengan sikap dan sistem nilai individu yang ada di
masyarakat. Pendekatan ini dilaksanakan dengan mengadakan intervensi secara
langsung dalam penerapan teori-teori yang ada. Strategi ini dilaksanakan dengan
cara melibatkan individu, kelompok atau masyarakat dan proses penyusunan
rancangan untuk perubahan. Pelaku dalam perubahan harus memiliki kemampuan
dalam berkolaborasi dengan masyarakat. Kemampuan ilmu perilaku harus dimiliki
dalam pembaharu.
c.Strategi Paksaan- Kekuatan
Dikatakan strategi
paksaan-kekuatan karena adanya penggunaan kekuatan atau kekuasaan yang
dilaksanakan secara paksa dengan menggunakan kekuatan moral dan kekuatan
politik. Strategi ini dapat dilaksanakan dalam perubahan sistem kenegaraan,
penerapan sistem pendidikan dan lain-lain.
2.5 TIPE PERUBAHAN
Perubahan merupakan sesuatu yang mungkin sulit diterima
bagi seseorang, kelompok atau masyarakat yang belum memahami makna dari
perubahan. Apabila dipandang dari tipe perubahan, menurut Bennis (1965),
perubahan itu sendiri memiliki 7 tipe diantaranya :
1)
Tipe indoktrinasi « suatu perubahan yang dilakukan oleh suatu
kelompok atau masyarakat yang menginginkan pencapaian tujuan yang diharapkan
dengan cara memberi doktrin atau menggunakan kekuatan sepihak untuk dapat
berubah.
2)
Tie paksaan atau kekerasan « tipe perubahan dengan melakukan pemaksaan
kekerasana pada anggota atau seseorang dengan harapan tujuan yang diinginkan
dapat tercapai.
3)
Tipe teknokratik « tipe perubahan dengan melibatkan kekuatan lain
dalam mencapai tujuan yang diharapkan terdapat satu pihak merumuskan tujuan dan
pihak lain untuk membantu teercapainya tujuan tersebut.
4)
Tipe interaksional « perubahan dengan menggunakan kekuatan kelompok
yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan yang
diharapkan.
5)
Tipe sosialisasi « suatu perubahan dalam mencapai tujuan dengan
menggunakan kerjasama dengan kelompok lain tetapi masih menggunakan kekuatan
untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.
6)
Tipe emultif « suatu perubahan dengan menggunakan kekuatan
unilateral dengan tidak merumuskan tujuan teerlebih dahulu secara
sungguh-sungguh, perubahan ini dapat dilakukan pada sistem diorganisasi yang
bawahannya berusaha menyamai pimpinan atau atasannya.
7)
Tipe alamiah « perubahan yang terjadi akibat sesuatu yang
tidak disengaja tetapi dalam merumuskan dilakukan secara tidak sungguh-sungguh,
seperti kecelakaan, maka seseorang ingin mengadakan perubahan untuk lebih
berhati-hati dalam berkendara dan lain sebagainya.
2.6 MODEL DALAM
PERUBAHAN
Dalam peruabahan kita
mengenal beberapa model diantaranya :
¥ Model Penelitian dan
Pengembangan (Research and Development
Model)
Ä Didasarkan atas penelitian dan perencanaan
dalam pengembangan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam menggunakan model ini dapat dilakukan
dengan cara :
Ó Melakukan
identifikasi atas perubahan yang akan dilakukan
Ó Menjabarkan
atau mengembangkan komponen
Ó Menyiapkan
perubahan
Ó Melakukan
desiminasi kepada masyarakat tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam
perubahan.
¥ Model Interaksi Sosial (Social Interaction Model)
Ä Model
perubahan dengan interaksi sosial ini dilakukan berdasarkan atas saling
kerjasama dalam sistem sosial dengan memfokuskan pada persepsi dan respon dari
perubahan yang akan dilakukan. Model ini menggunakan langkah-langkah (Rogers E)
diantaranya :
Ó Menyadari
akan perubahan
Ó Adanya
minat dalam perubahan
Ó Melakukan evaluasi tentang hal-hal yang akan
dilakukan perubahan
Ó Melakukan uji coba sesuatu hal yang akan
dilakukan perubahan serta menerimanya
¥ Model Penyelesaian Masalah (Problem Solving Model)
Model
ini menekankan pada penyelesaian masalah dengan menggunakan langkah-langkah
diantaranya :
Ó Mengidentifikasi kebutuhan yang menjadi masalah
Ó Mendiagnosis masalah
Ó Menemukan cara penyelesaian masalah yang akan
digunakan
Ó Melakukan uji coba
Ó Melakukan
evaluasi dari hasil uji coba untuk digunakan dalam perubahan
2.7 PENERAPAN
PROSES BERUBAH
Pendidikan
Setiap zaman akan mengalami perubahan dalam kurikulum
pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Pelayanan keperawatan
Adanya keetidakprofesionalnya perawat dalam merawat
pasien sehingga mengakibatkan jumlah pasien yang menurun. Setelah itu pihak
rumah sakit akan meningkatkan mutu pelayanan yang lebih berkualitas.
Individu
Mahasiswa yang dulunya malas belajar dan ketika ujian
mendapat nilai D, maka dia bisa termotivasi untuk belajar lebih giat agar
mendapat nilai B atau bahkan A, maka terjadi perubahan dalam diri mahasiswa
tersebut.
Masyarakat
Masyarakat yang dulunya tidak sadar akan pentingnya
membuang sampah pada tempatnya. Berubah persepsi akan pentingnya hal itu
setelah meraka mengalami banjir.
2.8 HAMABATAN
DALAM PERUBAHAN
Perubahan tidak selalu mudah untuk dilaksanakan akan
tetapi banyak hambatan yang akan diterimanya baik hambatan dari luar maupun
dari dalam diantara hal yang menjadi hambatan dalam perubahan adalah sebagai
berikut :
ª Ancaman kepentingan pribadi
Hambatan
dalam perubahan karena adanya kekhawatiran adanya perubahan segala kepentingan
dan tujuan diri. Contoh : dalam pelaksaan standarisasi perawat professional
dimana yang diakui sebagai profesi perawat adalah minimal pendidikan DIII
keperawatan, sehingga bagi lulusan SPK yang dahulu dan tidak ingin melanjutkan
pendidikan akan terancam bagi kepentingan dirinya sehingga hal tersebut dapat
menjadikan hambatan dalam perubahan.
ª Persepsi yang kurang tepat
Persepsi
yang kurang tepat atau informasi yang belum jelas ini dapat menjadi kendala
dalam proses perubahan. Berbagai informasi yang akan dilakukan dalam sistem
perubahan jika tidak dikomunikasikan dengan jelas, maka tempat yang akan
dijadikan perubahan akan sulit menerimanya sehingga timbul kekhawatiran dari
perubahan tersebut.
ª Reaksi psikologis
Faktor yang menjadi
hambatan dalam perubahan karena setiap orang memiliki reaksi psikologis yang
berbeda dalam merespons perbedaan sistem adaptasi pada setiap orang juga dapat
menimbulkan reaksi psikologis yang berbeda sehingga bisa menjadi hambatan dalam
perubahan. Contoh : apabila akan dilakukan perubahan dalam sistem praktek
keperawatan mandiri bagi perawat. Jika perawat belum bisa menerima secara
psikologis akan timbul kesulitan karena ada perasaan takut sebagai dampak dari
perubahan.
ª Kebiasaan
Pada dasarnya seseorang
akan lebih senang pada sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya atau bahkan di
laksanakan sebelumnya dibandingkan dengan sesuatu yang baru dikenalnya, karena
keyakinan yang dimilikinya sangat kuat.
ª Ketergantungan
Ketergantungan seseorang
menyebabkan tidak dapat hidup secara mandiri dalam mencapai tujuan tertentu.
ª Norma
Segala aturan yang didukung
oleh anggota masyarakat dan tidak mudah dirubah. Apabila akan mengadakan proses
perubahan namun perubahan tersebut bertentangan dengan norma maka perubahan
tersebut akan mengalami hambatan. Sebaliknya jika norma tersebut sesuai dengan
prinsip perubahan, maka akan sangat mudah dalam perubahan.
2.8 PERUBAHAN
DALAM KEPERAWATAN
Dalam perkembangannya
keperawatan juga mengalami proses perubahan seiring dengan kemajuan dan
teknologi. Alasan terjadinya perubahan dalam keperawatan antara lain:
Keperawatan Sebagai Profesi Keperawatan sebagai
profesi yang diakui oleh masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan
melalui asuhan keperawatan tentu akan dituntut untuk selalu berubahkearah
kemandirian dalam profesi keperawatan, sehingga sebagai profesi akan mengalami
perubahan kearah professional dengan menunjukan agar profesi keperawatan diakui
oleh profesi bidang kesehatan yang sejajar dalam pelayanan kesehatan.
Keperawatan Sebagai Bentuk Pelayanan Asuhan
Keperawatan Keperawatan sebagai bentuk pelayanan asuhan keperawatan
professional yang diberikan kepada masyarakat akan terus memenuhi tuntutan
kebutuhan masyarakat dengan mengadakan perubahan dalam penerapan model asuhan
keperawatan yang tepat, sesuai dengan lingkup praktek keperawatan.
Keperawatan Sebagai Ilmu Pengetahuan Keperawatan
sebagai ilmu pengetahuan terus selalu berubah dan berkembang sejalan dengan
tuntutan zaman dan perubahan teknologi, karena itu dituntut selalu mengadakan
perubahan melalui penelitian keperawatan sehingga ilmu keperawatan diakui
secara bersama oleh disiplin ilmu lain yang memiliki landasan yang kokoh dalam
keilmuan.
Keperawatan Sebagai Komunikasi Keperawatan sebagai
komunikasi dalam masyarakat ilmiah harus selalu menunjukkan jiwa professional
dalam tugas dan tanggung jawabnya dan selalu mengadakan perubahan
sehingga citra sebagai profesi tetap bertahan dan berkembang.
BAB III
KESIMPULAN
1. Perubahan merupakan suatu proses dimana
terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi
yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
ada. Perubahan dapat mencakup Keseimbangan Personal, sosial maupun
organisas untuk dapat menjadikan perbaikan atau penyempurnaan serta dapat
menerapkan ide atau konsep terbaru dalam
mencapai tujuan tertentu (Lascaster1982).
2. Dalam konsep berubah, tidak selalu mudah untuk
dilaksanakan akan tetapi ada beberapa hambatan dalam melakukannya baik berasal
dari internal maupun eksternal.
3.
Strategi dalam konsep
berubah ada 3 yaitu : Strategi Rasional Empirik, Strategi Reduktif Normatif,
dan Strategi Paksaan-Kekuatan.
DAFTAR
PUSTAKA
Nursalam (2002) Edisi 1. Manajemen
Keperawatan. Aplikasi dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba.
Nursalam (2009) Edisi 2. Manajemen
Keperawatan. Aplikasi dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba.
A. Aziz Alimul
Hidayat (2008) Edisi 2. Pengantar
Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba.